NANOTEKNOLOGI DI INDONESIA, MIMPI KAH?




na.no.tek.no.lo.gi /nanotêknologi/

n Nanotek pengembangan dan perakitan peralatan atau substansi yang sangat kecil sehingga hanya dapat diukur dengan skala molekuler

 Tentunya asing di telinga anda -- mengenai nanoteknologi -- karena memang, di Indonesia sendiri, konsep nanoteknologi belum terlalu mendominasi dunia industri, terlebih pendidikan keteknikan. Padahal pada aplikasinya, nanoteknologi adalah suatu inovasi masa depan yang sangat mutakhir. Percabangan ilmu nanoteknologi pun sudah sangat banyak, diantaranya, bionanotechnology, chemonanotechnology, nanomechanics, nanoelectric, nanoelectromechanical, dan lain sebagainya. Banyak bukan? Bagaimana nanoteknologi di Indonesia, sudah sejauh apa?
 Patut dan harus diakui bahwa Indonesia selalu tertinggal dalam kemajuan dan perkembangan IPTEK jika dibandingkan dengan negara lain. Berdasarkan data dari laman MNI | Masyarakat Nano Indonesia, ilmuwan nano di Indonesia hanya berkisar di angka 300 orang, dengan rincian 43 orang menekuni cabang nanokimia, 42 orang menekuni cabang nanobioteknologi, 47 orang menekuni nanoelektronik dan nanodivais, dan 12 sisanya menekuni isu isu strategis nano. Cukup memprihatinkan jika dibandingkan dengan negara lain.
 Sejak pertama kali dikemukakan oleh Richard Feynman, nanoteknologi langsung berkembang pesat di berbagai penjuru dunia, Jerman, adalah salah satu pelopor dimulainya pendekatan ilmiah kepada ilmu nanoteknologi, disusul negara lain seperti Belanda, Rusia, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jepang, dan lain lain. Jika anda mencari program studi pascasarjana (graduate) anda akan menemukan berbagai macam program studi berkaitan dengan nanoteknologi di universitas bergengsi di Eropa dan Amerika, serta sebagian Asia. Di Indonesia? Bagaimana?
 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah mengembangkan nanoteknologi sejak tahun 2000an namun belum mampu mengkomersilkannya. Hal yang paling mendasar dalam menghambat perkembangan teknologi nano di Indonesia adalah ketiadaan alat pengukuran (metrologi) nanomaterial. Bambang Subiyanto, Kepala Pusat Inovasi LIPI menyatakan bahwa sudah 13 tahun pengembangan nanoteknologi di Indonesia berjalan sehingga tahap yang dituju sekarang adalah komersialisasi produk nanomaterial berbasis kegiatan riset.
 Kontribusi anda dalam perkembangan nanoteknologi di indonesia bisa dimulai dari peningkatan literasi pemuda akan bacaan-bacaan akademik internasional, jurnal-jurnal penelitian, dan sebagainya. Hal ini agar ilmu nanoteknologi yang berasal dari luar ini bisa masuk ke Indonesia secepat mungkin, agar tidak terus tertinggal, tertinggal, tertinggal, dan akhirnya mengalami kemunduran. Jadi, siapkah anda?




uny.ac.id
library.uny.ac.id

Comments